Renungan

Surga Yang Indah

Wahyu 7:13-17; 1 Raja-Raja 19:14-18 – “Mereka tidak akan menderita lapar dan dahaga lagi, dan matahari atau panas terik tidak akan menimpa mereka lagi” (Wahyu 7:16).

Charles H. Spurgeon suatu hari menyampaikan kalimat bijak, “Jika seseorang menyewa sebuah gubuk selama seratus tahun, maka pastilah ia menghargainya lebih mahal daripada mempunyai istana cuma sehari.”
Apa yang menjadi pesannya adalah jelas bahwa apa yang kita akui di bumi ini sebagai hak milik kita itu bernilai sementara. Silakan Anda mengejar dan mengumpulkan uang sampai bergudang-gudang banyaknya, toh itu semua hanyalah sekedipan mata usianya. Sementara Anda sedang berada di ujung maut di sebuah rumah sakit, dengan terpaksa Anda harus bagikan harta Anda itu kepada anak-anak Anda dengan adil, kalau tidak, niscaya akan terjadi baku hantam, baku tinju, dan baku tembak di antara mereka. Harta memang masih membutakan banyak manusia!

Continue Reading

Renungan

Ritual Doa

Wahyu 8:1-5; Mazmur 141:2 – “Maka naiklah asap kemenyan bersama-sama dengan doa orang-orang kudus itu dari tangan malaikat itu ke hadapan Allah” (Wahyu 8:4).

Allah sangat menghargai doa. Sebab hanya melalui doa Allah dapat berkomunikasi dengan kita. Tetapi doa sendiri tidak lagi menjadi bagian yang penting dalam kehidupan rohani kita. Kita menganggap doa itu suatu kewajiban yang harus dilaksanakan, sebab kalau tidak…. kita akan berpikiran bahwa dengan muka merah Allah akan mendatangi dan menghukum kita. Dahulu, saat masih kanak-kanak, kalau saya tidak berdoa sebelum makan, saya khawatir nasinya keluar masih tetap jadi nasi. Jadi berdoa membawa saya pada ketakutan.

Continue Reading

Renungan

Menang Atas Penderitaan

Wahyu 6:5-6; Yeremia 51:4 – “Dan aku melihat:sesungguhnya, ada seekor kuda hitam dan orang yang menungganginya memegang sebuah timbangan di tangannya. Dan aku mendengar seperti ada suara di tengah-tengah keempat makhluk itu berkata: “Secupak gandum sedinar, dan tiga cupak jelai sedinar. Tetapi janganlah rusakkan minyak dan anggur itu” (Wahyu 6:5, 6).

Penderitaan adalah kondisi yang paling ditakuti oleh setiap orang. Tidak seorang pun yang mau hidup menderita, dan kalau hal itu terjadi biasanya karena terpaksa bukan karena disengaja. Setiap orang pasti mempunyai keinginan untuk hidup enak, nyaman, aman dan tenteram, bebas dari rasa lapar, bebas dari rasa haus, semua yang dibutuhkan bisa tercukupi. Namun kitab Wahyu 6:5,6 memberikan peringatan dan gambaran kepada kita tentang kondisi buruk yang menjadikan umat manusia di bumi ini mengalami kepanikan.

Kuda hitam dan penunggangnya yang memegang sebuah timbangan berbicara secara simbolik tentang munculnya bencana kelaparan, keguncangan ekonomi, inflasi, resesi, dan kepanikan sosial. Dan inflasi kemungkinan besar akan menjadi alasan yang akan digunakan oleh anti-Kristus untuk menerapkan pengendalian ketat atas penjualan dan pembelian bahan makanan (lih. Wahyu 13), sehingga ini akan memicu kesulitan makanan. Bangsa akan bangkit melawan bangsa, dan kerajaan melawan kerajaan, dan akibatnya akan muncul kelaparan (Matius 24:7).

Continue Reading

Renungan

Pasukan Maut

Wahyu 6:7-8; Amsal 21:3 – Dan aku melihat: sesungguhnya, ada seekor kuda hijau kuning dan orang yang menungganginya bernama Maut dan kerajaan maut mengikutinya. Dan kepada mereka diberikan kuasa atas seperempat dari bumi untuk membunuh dengan pedang, dan dengan kelaparan dan sampar, dan dengan binatang-binatang buas yang di bumi (Wahyu 6:8).

Setiap angkatan bersenjata dalam suatu negara memiliki komando pasukan khusus, dan biasanya komando ini juga dijuluki sebagai pasukan maut. Dalam menjalankan oprasinya mereka terkenal sadis, tidak mengenal belas kasihan, apalagi jika ditengarai orang-orang yang di hadapannya adalah musuh. Segala cara dan upaya ditempuh untuk menghancurkan lawannya. Pasukan ini memiliki keahlian yang melebihi pasukan lainnya, pasukan ini memiliki kemampuan destruksif, yaitu menghancurkan dan meluluhlantakkan sasaran operasi.

Demikian halnya dengan pasukan maut yang digambarkan dengan kuda hijau kuning, penunggangnya bernama maut, ia diberi kuasa untuk membunuh seperempat penduduk bumi, yaitu dengan pedang, kelaparan, sampar, dan binatang buas.

Continue Reading

Renungan

Jubah Putih

Wahyu 6:9-11; Daniel 3:2 – “Dan kepada mereka masing-masing diberikan sehelai jubah putih, dan kepada mereka dikatakan, bahwa mereka harus beristirahat sedikit waktu lagi hingga genap jumlah kawan-kawan pelayan dan saudara-saudara mereka, yang akan dibunuh sama seperti mereka” (Wahyu 6:11).

Jubah putih yang diberikan berbicara tentang kesucian, kemurnian, sukacita, kemenangan dan kemuliaan yang diterima oleh para martir, yaitu orang yang meninggal karena kesetiaan dan ketekunannya di dalam mengerjakan pekerjaan imannya. Iman seorang martir tetap teguh, tidak lapuk oleh hujan dan panas, tidak goyah dengan terpaan badai yang menerjangnya. Imannya tidak dipengaruhi dengan keadaan dunia sekitarnya, melainkan dapat menyesuaikan diri dan tetap berdiri kokoh dan terus memberitakan Injil kerajaan Allah hingga akhir hayatnya.

Continue Reading

Renungan

Hancurnya Kesombongan Manusia

Wahyu 6:12-17; Amsal 16:18 – Dan mereka berkata kepada gunung-gunung dan kepada batu-batu karang itu: “Runtuhlah menimpa kami dan sembunyikanlah kami terhadap Dia, yang duduk di atas takhta dan terhadap murka Anak Domba itu” (Wahyu 6:16).

Isu-isu kesombongan cukup mendominasi komunitas manusia, hampir setiap orang memiliki potensi untuk masuk ke dalam perangkap kesombongan. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang mau direndahkan martabatnya, semua orang memiliki kecenderungan untuk dihargai, dihormati dan diakui kepribadiannya.
Diakui karyanya, diakui kemampuanya, diakui keahliannya, diakui prestasinya, sehingga karena hal inilah seringkali muncul iri hati dan saling mendengki. Sebab satu sama lain disadari atau tidak sering terlibat persaingan untuk terus berkompetisi guna mengejar prestasi dan keuntungan, bahkan untuk mencapainya kadang segala cara dipakai – yang penting dirinya diuntungkan.

Continue Reading

Renungan

Meterai Perlindungan Allah

Wahyu 7:1-8; Mazmur 46:2 – Janganlah merusakkan bumi atau laut atau pohon-pohon sebelum kami memeteraikan hamba-hamba Allah kami pada dahi mereka” (Wahyu 7:3)!

Meterai di samping berbicara mengenai tanda kepemilikan, juga berbicara mengenai perlindungan. Perhatikan bahwa penghukuman Allah dilaksanakan setelah malaikat memberikan tanda meterai pada dahi semua suku keturunan Israel.

Kita diingatkan juga tentang tanda darah yang harus dioleskan pada kedua tiang pintu dan ambang atas sebelum malaikat Allah mengambil nyawa setiap anak sulung, baik manusia maupun hewan, yakni pada masa bangsa Israel di bawah pimpinan Musa (Keluaran 12:23). Apa maksudnya? Ini berbicara mengenai perlindungan Allah kepada umat-Nya.

Continue Reading

Renungan

Keselamatan Untuk Siapa?

Wahyu 7:9-12; Mazmur 8:5 – Dan semua malaikat berdiri mengelilingi takhta dan tua-tua dan keempat makhluk itu; mereka tersungkur di hadapan takhta itu dan menyembah Allah, sambil berkata: ”Amin! puji-pujian dan kemuliaan, dan hikmat dan syukur, dan hormat dan kekuasaan dan kekuatan bagi Allah kita sampai selama-lamanya! Amin!”

Ini adalah pemandangan luar biasa yang terjadi di dalam surga. Satu himpunan manusia yang tak terhitung jumlahnya secara serentak dan dengan suara nyaring berseru, ”Keselamatan bagi Allah kami yang duduk di atas takhta dan bagi Anak Domba!” Siapa mereka itu? Dan mengapa mereka berseru demikian? Mereka adalah pribadi-pribadi yang telah melewati kematian secara fisik dan mengalami penebusan [keselamatan] secara sempurna oleh Darah Anak Domba Allah. Karena mereka telah mengalami secara pribadi apa itu keselamatan membuat mereka bisa berkata, ”Keselamatan bagi [NKJV: milik kepunyaan] Allah kami yang duduk di atas takhta dan bagi Anak Domba!”

Continue Reading

Renungan

Celaka 3 Kali

Wahyu 8:6-13; Ulangan 10:17 – “Lalu aku melihat: aku mendengar seekor burung nasar terbang di tengah langit dan berkata dengan suara nyaring: “Celaka, celaka, celakalah mereka yang diam di atas bumi oleh karena bunyi sangkakala ketiga malaikat lain, yang masih akan meniup sangkakalanya” (Wahyu 8:13).

Kata “celaka” yang disebutkan 3 kali menandakan seriusnya “celaka” yang akan menimpa penduduk bumi, sebab sangkakala penghukuman Allah masih akan ditiup lagi.

Di negeri yang kita cintai ini hukum haruslah ditegakkan, meskipun prakteknya hukum itu bisa dibeli. Saya yakin tidak hanya di negeri ini saja, tetapi di negeri lain pun hukum masih dapat diputarbalikkan. Tetapi hukum Allah tidak dapat diputarbalikkan. Siapa yang bersalah tidak akan lolos dari hukuman. Atau Anda berpikir akan ada seorang konglomerat yang datang dengan membawa sekopor berlian lalu hendak menyuap Allah? Lupakan! Pemandangan seperti itu tidak akan terjadi. Alkitab berkata, “Sebab TUHAN, Allahmulah Allah segala allah dan Tuhan segala tuhan, Allah yang besar, kuat dan dahsyat, yang tidak memandang bulu ataupun menerima suap” (Ulangan 10:17).

Continue Reading

Music

Ditinggikan Pada Waktunya

2 Timotius 4:8 – “Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, . . . . ”.

Setiap orang tentunya ingin ditinggikan, termasuk kita. Supaya ditinggikan rupanya bukan hal yang mudah, meskipun janji Allah sudah keluar dari mulut-Nya. Kalau kita melihat kisah daripada Daud; dimana dalam kurun waktu yang cukup lama dan menegangkan Daud harus berlarian ke sana kemari menghindari kejaran Saul. Yang mengejar bukanlah orang biasa, tetapi seorang raja dengan banyak prajurit yang menyertainya. Terkadang dia mengalami depresi yang dalam. Dan Daud kerap berpikir kapan saatnya dia mendapatkan janji Allah? Tetapi Allah tidaklah lupa dengan janji-Nya. Dia menepati dan pada saat yang ditentukan Daud duduk di atas tahta sebagai raja dengan segala kemuliaan.

Kapan kita ditinggikan? Anda pasti sering mempertanyakan hal ini. Tetapi Allah tidak pernah lupa akan janji-Nya. Meskipun saat ini Anda seperti berada dalam situasi seperti yang dihadapi oleh Daud, tetapi Allah pasti menepatinya.

Setiap orang yang mau ditinggikan harus mengalami proses terlebih dahulu. Seperti Yesus sendiri. Sebelum diangkat dan didudukkan di sebelah kanan Bapa, Yesus harus dianiaya, disiksa, lalu dibunuh di atas kayu salib. Tetapi setelah itu kemuliaan Allah menyertai-Nya. Mungkin Anda juga berkata bahwa Paulus tidak pernah mengalami kemuliaan. Seumur hidupnya dia mengalami aniaya dan penderitaan. Tetapi Anda lupa bahwa di balik aniaya itu dia mengalami sukacita. Lagipula saat terakhir Paulus berkata, “Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, . . . . ” (2 Timotius 4:8).

Kita pasti ditinggikan. Mungkin Anda mengeluh sampai kapan aku harus menunggu dalam kesengsaraan? Jangan bersedih hati, sebab sesungguhnya Allah pasti melakukan apa yang difirmankan-Nya.

Tetap ingatlah bahwa kemuliaan tidak harus identik dengan kekayaan. Kemuliaan lebih luas artinya. Kemuliaan mengandung sukacita dan damai sejahtera Allah serta kepenuhan di dalam Kristus.

Daud ditinggikan pada saat-Nya. Anda juga akan ditinggikan pada saat-Nya. Jadi baiklah kita tidak lengah, supaya iblis tidak mencuri pengharapan dalam diri kita, amin.