Renungan

Pasukan Maut

Wahyu 6:7-8; Amsal 21:3 – Dan aku melihat: sesungguhnya, ada seekor kuda hijau kuning dan orang yang menungganginya bernama Maut dan kerajaan maut mengikutinya. Dan kepada mereka diberikan kuasa atas seperempat dari bumi untuk membunuh dengan pedang, dan dengan kelaparan dan sampar, dan dengan binatang-binatang buas yang di bumi (Wahyu 6:8).

Setiap angkatan bersenjata dalam suatu negara memiliki komando pasukan khusus, dan biasanya komando ini juga dijuluki sebagai pasukan maut. Dalam menjalankan oprasinya mereka terkenal sadis, tidak mengenal belas kasihan, apalagi jika ditengarai orang-orang yang di hadapannya adalah musuh. Segala cara dan upaya ditempuh untuk menghancurkan lawannya. Pasukan ini memiliki keahlian yang melebihi pasukan lainnya, pasukan ini memiliki kemampuan destruksif, yaitu menghancurkan dan meluluhlantakkan sasaran operasi.

Demikian halnya dengan pasukan maut yang digambarkan dengan kuda hijau kuning, penunggangnya bernama maut, ia diberi kuasa untuk membunuh seperempat penduduk bumi, yaitu dengan pedang, kelaparan, sampar, dan binatang buas.

Pedang yang haus darah mengincar setiap orang dan siap membunuh serta memberikan serangan mautnya. Begitu banyak orang menderita dan kelaparan karena kekurangan pangan, seperti yang digambarkan di benua Afrika tepatnya di Etiopia. Penyakit sampar menyatakan tentang sakit penyakit yang disebarkan oleh berbagai macam virus dan sebab lainnya yang akan memakan korban jutaan orang, apalagi penyakit itu sudah menjadi epidemi. Sedang binatang buas mengacu kepada penerapan hukum rimba, diwarnai dengan balas dendam dan sadisme, manusia tidak lagi menghargai nyawa sesamanya. Saat ini kita sedang berada ditengah-tengah situasi yang seperti ini, walaupun hal itu tidak sedahsyat saat firman ini tergenapi seluruhnya.

Tetapi syukur kepada Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita. Sehingga Ia katakan: Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu?” (1 Korintus 15:55). Kita adalah umat pemenang. Janganlah kita membiarkan kemenangan kita direbut oleh pasukan maut yang tidak ada sengatnya. Kita harus mempertahankan kemenangan yang diberikan Tuhan kepada kita. Jangan beri kesempatan kepada pasukan maut untuk merebut kemenangan dan menghancurkannya. “Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia” (1 Korintus 15:57, 58).

Renungan – “Dan sesudah yang dapat binasa ini mengenakan yang tidak dapat binasa dan yang dapat mati ini mengenakan yang tidak dapat mati, maka akan genaplah firman Tuhan yang tertulis: “Maut telah ditelan dalam kemenangan” (1 Korintus 15:54).

Kasih, iman dan pengharapan ditakuti oleh pasukan maut.

Previous Post Next Post

You Might Also Like

No Comments

Leave a Reply